Komunitas film mahasiswa Titik Temu Films akan segera memproduksi film pendek terbaru berjudul "Atelier". Film ini mengangkat isu emosi terpendam dan dampak perundungan yang masih menjadi persoalan serius di kalangan anak dan remaja.

Produksi "Atelier" lahir dari keresahan terhadap meningkatnya kasus bullying di Indonesia. Perundungan tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang kerap tidak terlihat. Banyak anak tumbuh dengan kebiasaan memendam perasaan sedih, marah, dan takut karena dianggap berlebihan atau tidak penting.

Film ini mengikuti kisah Senja, seorang pelukis penyendiri yang mulai dikenal lewat pameran karyanya. Kehidupan Senja mulai berubah ketika ia bertemu Tara, seorang pengagum yang memesan lukisan darinya.

Tim produksi mengatakan bahwa film ini ingin menunjukkan bahwa emosi seperti sedih, marah, atau takut adalah hal yang wajar, dan tidak semua orang memiliki ruang untuk mengekspresikannya.

"Kami ingin penonton memahami bahwa perasaan yang dipendam bisa memengaruhi hidup dan kreativitas seseorang. Film ini diharapkan bisa membuka percakapan tentang pentingnya mengekspresikan emosi secara sehat," ujar tim produksi.

Judul "Atelier" sendiri merujuk pada ruang kerja Senja sebagai pelukis, yang menjadi pusat cerita di mana ia berkarya dan menghadapi perasaannya.

Saat ini, Titik Temu Films tengah memasuki tahap persiapan produksi, mulai dari pengembangan konsep visual hingga pendalaman karakter. Film ini diharapkan tidak hanya menjadi karya mahasiswa, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang kesehatan mental dan pentingnya menyediakan tempat aman bagi generasi muda untuk mengekspresikan perasaannya.

← Kembali ke Artikel